Bandung – Dalam upaya memperkuat tata kelola teknologi informasi dan mendukung transformasi digital yang berkelanjutan, Universitas Terbuka (UT) melalui Direktorat Teknologi Digital (DTD) melaksanakan kegiatan benchmarking ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kegiatan benchmarking ini diikuti oleh Iwan Susanto, S.Kom., M.T.I., Kepala Subdirektorat Strategi, Tata Kelola, dan Arsitektur Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta Laras Anggita Destofia, S.Kom., M.M.S.I., Kepala Seksi Strategi dan Regulasi Digital pada Direktorat Teknologi Digital Universitas Terbuka. Tim Universitas Terbuka diterima oleh Achmad Imam Kistijantoro, S.T., M.Sc., Ph.D., Wakil Direktur Bidang Sistem dan Teknologi Informasi ITB, dan Ario Sutomo, S.Kom., M.T., Kepala Subdirektorat Operasional dan Layanan Teknologi Informasi ITB.

Kegiatan ini menjadi sarana berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan teknologi informasi yang mendukung layanan akademik, administrasi, serta pengambilan keputusan di lingkungan perguruan tinggi. Pada kesempatan tersebut, tim Universitas Terbuka memperoleh wawasan mengenai tata kelola, pengelolaan infrastruktur, keamanan informasi, serta strategi pengembangan layanan digital yang diterapkan di ITB.

Salah satu topik utama yang dibahas adalah struktur organisasi pengelola teknologi informasi yang terdiri atas empat bidang, yaitu Operasi, Pengembangan, Sumber Daya, serta Tata Kelola dan Perencanaan. Struktur ini memungkinkan pengelolaan layanan dilakukan secara lebih fokus dan terukur sesuai dengan fungsi masing-masing.

Dalam aspek tata kelola, ITB telah menerapkan berbagai praktik yang mengacu pada standar internasional, termasuk ISO 9001 untuk manajemen mutu dan ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi. Selain itu, ITB juga mengembangkan tata kelola data (data governance) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan dan pemanfaatan data institusi.

Diskusi juga membahas pengelolaan keberlangsungan layanan teknologi informasi melalui keberadaan Disaster Recovery Center (DRC) di Jatinangor serta mekanisme pencadangan data (backup) yang dilakukan secara berlapis untuk menjaga ketersediaan dan keamanan data. Dari sisi keamanan siber, ITB telah membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) sebagai bagian dari penguatan kapasitas penanganan insiden keamanan informasi.

Pada aspek layanan, ITB secara rutin melakukan evaluasi layanan dan survei kepuasan pengguna setiap tahun sebagai bahan perbaikan dan peningkatan kualitas layanan teknologi informasi. Sementara itu, pengelolaan risiko dilakukan secara terintegrasi dengan dukungan unit manajemen risiko yang berada langsung di bawah koordinasi Rektor.

Tim UT juga memperoleh gambaran mengenai penerapan Enterprise Architecture (EA) melalui pendekatan integrasi aplikasi dan teknologi yang mendukung keselarasan antara proses bisnis, data, dan layanan digital di lingkungan institusi.

Melalui kegiatan benchmarking ini, Universitas Terbuka memperoleh berbagai masukan yang dapat menjadi referensi dalam penguatan tata kelola teknologi informasi, peningkatan kualitas layanan digital, serta pengembangan transformasi digital yang selaras dengan kebutuhan organisasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Universitas Terbuka untuk terus menghadirkan layanan teknologi informasi yang andal, aman, dan berorientasi pada kebutuhan sivitas akademika.